Widji Thukul: Sekali Berarti, Sudah Itu Mati

Widji_thukul_1

Sajak Suara

Sesungguhnya, suara itu tak bisa diredam.
Mulut bisa dibungkam.
Namun, siapa yang mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku?

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan.
Di sana bersemayam kemerdekaan.
Apabila engkau memaksa diam,
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Dan, sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu.
Ia ingin bertanya, ia hanya ingin bicara: ‘mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?’

Sesungguhnya, suara itu akan menjadi kata.
Ialah yang mengajari aku bertanya.
Dan pada akhirnya, tidak bisa tidak, engkau harus menjawabnya.
Apabila engkau tetap bertahan, aku akan memburumu seperti kutukan.

~ Edited Version by Homicide. Real Poet by Widji Thukul ~

(Tanpa Judul)

Kuterima kabar dari kampung, rumahku kalian geledah, buku-bukuku kalian jarah.

Tapi aku ucapkan banyak terima kasih.
Karena kalian telah memperkenalkan sendiri pada anak-anakku, kalian telah mengajar anak-anakku, membentuk makna kata penindasan.
Sejak dini.

Ini tak diajarkan di sekolahan, tapi rezim sekarang ini memperkenalkan kepada semua kita, setiap hari di mana-mana, sambil nenteng-nenteng senapan

Kekejaman kalian adalah bukti pelajaran yang tidak pernah ditulis.

~ Indonesia, 11 Agustus ’96, Widji Thukul ~


Bunga dan Tembok

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh.
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah.

Seumpama bunga, kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya.
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi.
Seumpama bunga, kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri.

Jika kami bunga, engkau adalah tembok.
Tapi di tubuh tembok itu, telah kami sebar biji-biji.
Suatu saat kami akan tumbuh bersama, dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami, di mana pun – tirani harus tumbang!

~ Solo, ’87 - ’88: Widji Thukul ~

Suaramu, seperti tak ada matinya!

                            

Sonet ?

Mendadak, sejenis pedih tiba pada sebuah senja yang masih itu-itu juga.

Aku lihat ia tetap dengan patah tatap serta jubahnya, meski sesaat, selarik senyum sempat tersungging saat mulai mendekati dan mengulurkan tangannya, padaku.

"Apa lagi kesalahanku, Tuan?", tanyaku gemetar, terusir dari ruangan penuh warna ceria. Ia dingin, diam, datar.

Segera warna cemas merangsek dari sore yang terhampar, menampar, nyaris membuatku kembali terkapar.

Tapi, tak juga aku dengar debamnya.

Sejenak, waktu bergemeretak: di sini, ternyata aku tetap berdiri dengan utuh tak kurang suatu apa.

Tak ada debam.

Tak ada retak.

Hanya detak.

"Lalu, apakah maksud kunjungan Tuan kali ini?", kataku pelan. Ia menggerakkan rahang kakunya.

"Aku ingin mengabarkan, sudah aku basuh wajah kalian dengan rintik-rintik rindu itu".

Dalam Bayanganku

Dalam bayanganku, pasir berwarna gosong menyambut penumpang sebuah kapal yang karam dengan penuh keteduhan, serupa lambaian nyiur yang juga mendesahkan resah. 

Dalam bayanganku, dahaga pencarian cair saat sejenis air suci dari bongkahan serupa giok Cina menyusuri liang tenggorokanku.

Dalam bayanganku, seonggok rumah tegak berdiri beratap pelepah yang telah tanak dipanggang api abadi.

Dalam bayanganku, aku lelap di atas karpet pasir bersama sejenis keyakinan bahwa sedih mesti pecah dan usai saat pori-porimu menghisapnya.

Dalam bayanganku, sepotong ombak kecil datang bukan karena keinginannya, tapi karena pantai telah memanggilnya.

Dan tidak dalam bayanganku, aku ingin hanya kamu yang terus dan tetap menyambutku...

~ Lenteng Agung, 241207 ~

Kepada Kamu...

Kulitku yang tawar berhutang banyak kepada kulitmu: aku sering meminjamnya untuk terus merasa,
ketika pedih yang semakin pedih bangkit sejenak menyuntikkan masa lalu.

Kupingku yang tipis berhutang banyak kepada kupingmu: aku sering meminjam lorongnya untuk membuat lelah perjalanan kata,
ketika ia mungkin saja mampu membuat nyeri di hati.

Lidahku yang kelu berhutang banyak kepada lidahmu: aku sering meminjam manisnya untuk tidak menghancurkan harapan,
ketika orang lain menghampiri membagi cerita mereka.

Hidungku yang kedodoran berhutang banyak kepada hidungmu: aku sering meminjam bulu-bulunya untuk menangkap riang,
ketika sepi semakin menjadi-jadi di sini.

Empat mataku berhutang banyak kepada sepasang matamu: aku sering meminjam kelopaknya untuk menyaksikan sekitar,
ketika aku terlupa bahwa hari ini bunga-bunga juga menguarkan wangi.

Dalam batok kepalaku berhutang banyak kepada dalam kepalamu: aku sering meminjam isinya untuk mengamini,
ketika hidup ternyata memang dimulai hari ini.

Hatiku yang pekat berhutang banyak kepada hatimu: aku sering meminjam kilaunya untuk meyakini lagi bahwa masih ada kasih sayang di dunia ini.

~ Lenteng Agung, 241207 ~

Sekeping Alasan Untuk Kembali Melangkah

                                                                                           : WM

            Memang tak pernah ada yang pasti dalam hidup ini. Bisa saja pagi datang menyapamu sumringah, lalu menjadi murung saat siang tiba. Bisa saja, misalnya lagi, senja yang menangis berubah saat malam muncul bersama kerjap gemintang di angkasa sana. Bisa saja juga, senyum tulus malam terhantam oleh pagi yang marah. Atau, bisa saja kombinasi cuaca, waktu dan ketidak-pastian itu berlangsung dalam waktu yang sama. Muncul tanpa diinginkan, tanpa ada kompromi.
            Dan hidup sepertinya hanya mengharuskan kata mungkin saja yang selalu tumbuh, merambat kemudian membelit, membentuk satu jalinan antara kesedihan dan kebahagiaan.
            Di luar dari kata itu, rasanya tidak ada.
            Tapi aku yakin, akan selalu ada hasil dari seluruh belitan kemungkinan-kemungkinan itu.
            Beberapa memang mati tercekik. Beberapa yang lain, selamat. Dan aku pikir, kita memiliki potensi untuk selamat.
            Aku juga selalu yakin, bahwa kombinasi antara cuaca, waktu dan seluruh ketidak-pastian, akan memunculkan sejenis bunga dari belitan-belitan hidup.
            Mungkin bunga itu akan menjadi indah, wangi, disukai lalu dinikmati oleh seseorang atau menjadi tontonan banyak pihak. Mungkin bunga itu menjadi biasa-biasa saja dan hanya menempati ruang sebagai hiasan belaka. Atau mungkin juga bunga itu begitu buruknya sehingga tak pernah ada yang menginginkannya.
            Tapi bunga akan tetap menjadi bunga: ia tumbuh, mekar lalu gugur untuk memberikan dirinya bagi kehidupan baru, yang berikutnya. Serupa dengan hidup, mesti kembali mendirikan bentukan baru dari sebuah kehancuran total.
            Serupa dengan kamu dan aku...
                                                    ***
            Di ingatanku, ada sebuah pagi di stasiun yang menyapa dengan murung, waktu yang terkungkung, wajah-wajah yang kemurusung.
            Dan pada bangku-bangku besi yang dingin, arus para penumpang, dentang pengumuman keberangkatan dan kedatangan, gemuruh tapak-tapak kereta, aku sempat titipkan umpatan saat jejakkan kaki: aku tidak terlalu suka dengan stasiun.
            Bukan karena kereta selalu menyiksa para penumpang dengan datang dan pergi sesuka hati, tapi lebih karena stasiun selalu membaurkan kepergian dan juga kedatangan. Semuanya menjadi rancu, menjadi ragu.
            Aku memang lebih suka dengan terminal kedatangan dari setiap bandara. Di sana, menunggu tak lagi menjadi laku penuh jemu: kamu tak sendiri menikmati sepi meski sunyi semakin menjadi-jadi.
            Di terminal kedatangan, yang ada hanya buntalan penantian penuh pengharapan, kegembiraan yang pecah atas sebuah pertemuan, percakapan hangat yang panjang dan berseliweran.
            Di sana, kebahagiaan memang lebih mendominasi dibandingkan di terminal keberangkatan. Dan aku pernah tersenyum kecut mengetahui jawabanmu, “Cieee… mau dikirim kemana tuh?! Ah, aku jadi tersinggung dengan sms salah kirimmu itu… Kamu pasti tengah patah hati, yaaa…”.
            Mendadak sejenis jarak antara kamu juga aku, terpenggal. Mendadak sejenis kenyamanan atas seluruh percakapan, tumbuh dalam hatiku. Mendadak juga aku cepat-cepat membunuhnya: aku sedang tak ingin terlibat emosi. Aku memang tak menempatkan dirimu dalam posisi pelacur-pelacur yang telah aku setubuhi, tapi aku hanya tak mau hatiku tercuri lagi dan akhirnya berhenti. Itu saja.
            Tentu saja itu semua telah menghadirkan kelelahan dan menderaku dengan sangat hebatnya. Tentu saja itu semua menjadikanku begitu patahnya.
            Tapi, aku pikir, kamu tak perlu terlalu serius menanggapinya: aku ini hanya orang yang risau, dan terkadang, kerap membiarkan diri ini dibekap kekonyolan.
            Lalu, mengapa aku kembali menceritakan semua ini padamu? Sederhana saja, kamu lebih dulu tiba dan menungguku di sebuah café. Segelas coklat panas dan donat yang nyaris habis telah menemanimu. Sambil menutup majalah, kamu menyambutku dengan senyum. Kamu tidak perduli meski kantuk yang hebat tengah menghantammu.
            Seperti biasa, kamu membuka semuanya dengan percakapan penuh binar. Dan seperti biasanya juga, aku hanya menanggapi dengan lebih banyak tersenyum. Pun saat gemeretak roda kereta pagi yang kita tumpangi tengah menggilas rel-relnya.
            Untuk beberapa lama kamu masih berbicara, terus bercerita. Seperti tak akan pernah kehabisan kisah. Untuk beberapa lama aku tersenyum, terkadang tertawa.
            Tapi, sekuatnya kamu mencoba bertahan, kekalahan tetap saja mengintip lalu membuatmu terkapar. Perlahan kamu roboh atas kantuk yang mendera. Kamu tertidur. Menutup wajah dengan bantal yang telah tersedia.
            Kamu tahu, mau tidak mau, aku mesti mengulum senyum saat melihatmu tertidur: aku mesti membatalkan niat untuk meminta selotip kepada tekhnisi Taksaka.
            Aku pun kembali membatin selama perjalanan hingga kita dimuntahkan dari perut kereta, ‘apa yang akan terjadi nanti dan yang sebenarnya tengah aku lakukan ini, ya?’.
            Sebenarnya kata itu terus bermain dalam diriku, sejak aku mengangguk atas ide kepergian kita, hingga akhirnya kamu dan aku tiba pada sebuah kota. Pada sebuah malam yang masih muda. Pada hujan yang akhirnya menggenapi semuanya.
            Mendadak, di sana dingin gugur di dinding waktu. Mendadak, kesal berganti kangen atas seluruh keceriwisanmu. Mendadak, cerah bangkit dari tidur panjang dalam hidupku.
            Malam itu, aku sisipkan kata di relung telinga yang tertutup oleh rambutmu, ‘kita pacaran, yukkk…’. Kamu pun ngakak.
            “Kok kamu bisa ngomong gitu?”. Aku terdiam.
            “Aku ketagihan memelukmu”. Kamu diam.
            Dan pada pagi yang telah lama berdiri, kita terbangun dengan saling berpelukan.
            Semuanya berubah. Sepertinya hari itu segalanya memang mesti berubah.
            Maka dari balik jendela kereta yang menghantarkan kita kembali pulang, aku pandangi cuaca, suasana dan nuansa yang berganti-ganti dengan perlahannya.
            Kepergian itu membuka semuanya, kedatangan di kota itu telah membuka segalanya. Sepertinya sejak hari itu semuanya memang mesti kembali melangkah.
            Sekarang, meski senja dibekap cuaca yang murung, aku yakin bahwa akan selalu ada masa dimana kita mesti tersenyum. Akan selalu ada masa untuk bahagia. Dan memang akan selalu ada masa untuk tertawa meski kemudian resah memiliki potensi untuk berkuasa. Bahkan akan selalu ditambah dengan potensi lain, saat amarah berujung tangis itu pecah.
            Tokh kamu selalu ada. Kamu selalu di sini. Aku pun berani menghadapi yang akan terjadi nanti. Pasti. Semua karena kamu yang selalu ada. Kamu yang selalu di sini.
            Dan di satu sisi, stasiun memang merancukan kepergian juga kedatangan. Tapi di sisi lain, stasiun adalah pemberhentian sementara dari arus manusia. Semacam pusat kecil diantara berbagai pilihan dan kemungkinan.
            Beberapa penumpangnya memang ada yang begitu lelah hingga malas kembali menaiki kereta. Beberapa ada yang begitu bersemangat untuk segera naik dan tidak perduli dengan yang lainnya, hanya memikirkan bagaimana caranya agar dirinya segera sampai di tujuan. Beberapa ada yang kehilangan arah hendak pergi ke mana. Beberapa ada yang kembali tersadar kemudian menetapkan untuk kembali berjalan, bersama. Dan semuanya memang hanya sekedar pilihan belaka.
            Maka aku katakan padamu, mulai dari sini, semuanya memang hanya serba mungkin. Segalanya hanya keputusan sebagai awal dari pilihan. Dan aku memutuskan untuk kembali melangkah, berjalan, menaiki kereta, bersama.
            Jika kemudian tumbuhan yang sebelumnya membelit dan mencekik itu telah memunculkan sejenis bunga, itu wajar saja. Kita telah duduk dalam kereta yang sama, bangku yang bersebelahan. Dan aku, kamu, kita, mau tidak mau mesti hidup bersama hal itu. Menghargai kehidupan baru ini, sebuah pilihan untuk kembali melangkah.
            Sepertinya, aku ingin tetap melangkah, terus berjalan dan menaiki kereta.
            Hanya bersama kamu…

                                       ~ Bojonggede, 22 November 2007 ~

Ini Semua Tentang Kamu Dan Untuk Kamu

Ada wajah bening dalam dekapan waktu yang hening. Wahai kamu...sedang mimpi indah atau burukkah? Teruslah melakoninya, meski suatu waktu nanti kamu baru menyadari lalu mengatakan: ‘betapa sempurnanya hidupku!’ Atau saat kamu tersadar lalu sedikit mengumpat: ‘sialan, betapa kacaunya diriku!’. Ingatlah, mimpi memang nyaris serupa dengan harapan, sementara harapan adalah penjaga agar manusia tetap hidup.

Mungkin nanti kamu akan merasa dingin. Tapi pada saat yang sama, sejenis rusuh yang liar bersemayam dalam dirimu. Kamu jangan bingung: namanya resah. Ia pasti akan terus mendesah. Awalnya perlahan, kencang, lalu mendadak akan sangat mengganggumu dengan jeritan histerianya.

Kamu jangan takut. Dekati ia, sapa ia, peluk ia, akrablah dengannya, meski pada akhirnya nanti, sekitarmu marah. Tenang saja dan jangan hiraukan mereka yang tidak tahu sama sekali bahwa kamu telah bertemu dengan bahan bakar dari harapan: gelora.

Tokh nanti mereka juga yang akan kembali mencarimu, mendatangimu. Katakan saja, ‘biarkan aku yang mencari tim terbaikku, bayarlah aku setimpal dengan kemampuanku’.

Lalu kamu menjelma seperti seorang musisi yang handal. Memilih komposisi nada terbaik, memilih musisi terbaik lain untuk memainkan musik dari karyamu, memilih studio dan alat musik terbaik, memilih perusahaan rekaman terbaik, memilih sutradara video klip terbaik, dan terakhir, memilih film terbaik yang ingin menggunakan karyamu sebagai soundtrack mereka.

Kamu menghargai penggemar dan para pencari berita, lebih dari musisi manapun di dunia ini.

Kamu tahu bagaimana harus mengelak dari setiap kabar miring atas dirimu, dan dengan cerdas menanggapi komentar nyinyir pihak-pihak yang iri padamu. Dan pada akhirnya, kamu pun membuat gentar mereka saat mendengar jawabanmu. Hingga satu-persatu mereka tertunduk bahkan meminta maaf lalu berusaha jujur padamu.

“Komposisimu benar-benar menakjubkan”.

“Pilihan nada yang cerdas”.

“Kelompok berisi musisi tersolid dan pas”.

“Aset berharga”.

Dan kamu tetap dingin menanggapinya. Kamu serta timmu memang harus dingin saja saat menanggapinya: pujian itu seperti pedang bermata dua. Mata pedang pertama akan menusukmu dengan kenikmatan atas pujian itu. Tapi mata pedang kedua, akan merobek-robek seluruh tubuhmu.

Kamu juga tahu persis bagaimana harus berbicara kepada timmu. Memompa kembali semangat kreatif mereka, meski pada akhirnya, kamu adalah orang yang berdiri paling pinggir di sisi panggung saat pementasanmu berlangsung.

Dan ketika pertunjukan usai, tepuk tangan meriah hadir, kepuasan itu teraih, kamu justru yang paling sibuk memuji kehebatan tim dan mereka yang iri padamu.

Ketika para pencari berita menghampirimu, kamu pun menghindar untuk berbicara panjang lebar dan hanya mengatakan, ‘aku hanya musisi yang bergantung sepenuhnya pada tim dan juga kritik dari pihak lain’.

Kamu tahu cara terbaik untuk merayakan kesuksesan. Kamu sangat tahu. Kamu memang dianugerahi sifat kepemimpinan klasik dan kasih sayang khas untuk mengayomi: selalu semangat dan terdepan dalam menghadapi segala hempasan dan yang paling terakhir kali menikmati kemenangan.

Lalu akan semakin banyak orang yang menghampirimu. Lagi-lagi kamu mengatakan, ‘semua ini adalah kerjasama: peradaban manusia adalah saksi nyata bahwa tanpa itu semua, umat manusia pasti telah lama musnah’.

Kamu memang tidak sembarangan memberikan karyamu. Kamu berani menggeleng untuk proyek-proyek kolaborasi yang tidak jelas. Tapi kamu sekaligus juga mau memberikan kepada mereka-mereka yang datang dan meminta dengan tulus karyamu: kamu hanya mengukur dengan apa yang hatimu katakan saat mereka mengucapkannya.

Kamu diakui dan disegani kritikus juga perusahaan tempat karyamu diproduksi. Dan kamu hanya selalu menjawab, ‘aku hanya berkarya dan bukan mencipta’.

Lalu kamu mengambil hak kerjamu dengan penuh. Tapi kamu selalu tahu: kamu tidak terlalu membutuhkan banyak uang dalam hidup ini. Kamu membagikannya pada anggota tim yang lebih membutuhkan. Mereka yang memutuskan untuk lebih dahulu berkeluarga dan harus menghidupi anak mereka. Kamu sungguh tahu persis bahwa uang dan ketenaran adalah perangkap jitu untuk menghancurkan hidupmu. Kamu sangat menyadari hal itu. Lalu kamu akan berkemas-kemas, pergi berlibur, menyembuhkan kenangan-kenangan burukmu.

Kamu menghabiskan sebagian waktumu di panti-panti jompo, bercengkrama dengan anak-anak yatim piatu, sambil membagikan rejekimu, membuat mereka semua senang. Hei, masih selalu ada nasib baik di hidup ini. Hei, jangan pernah menghancurkan harapan orang lain, sebab, jangan-jangan, hanya itu satu-satunya hal penting yang mereka miliki!

Kamu menghindari forum-forum besar, sebab kamu tahu persis: di sana banyak orang menepuk dada, dan banyak orang yang terlalu sering bicara dengan sedikitnya karya mereka. Kamu menghindari orang-orang yang gampang marah, cerewet, dan orang-orang oportunis.

Kamu memang bukan pahlawan, tapi kamu orang yang mandiri. Kamu juga bukan orang hebat, tapi kamu tahu persis bagaimana agar selalu bisa belajar dari kesalahan di masa lalu. Kamu tahu bahwa dunia ini kacau dan sakit. Tapi kamu tidak boleh untuk tidak memiliki harapan. Kamu tidak boleh untuk tidak memiliki gelora. Kamu tahu bahwa kehadiranmu di dunia ini juga sebuah tuntutan agar bertanggungjawab pada peradaban dan hidupmu.

Kamu memang cukup malas untuk mengerjakan hal-hal besar, tapi kamu selalu yakin, akan tetap ada hubungan yang erat antara kerja-kerja kecil dengan perubahan-perubahan besar. Kamu perduli. Kamu perduli. Kamu perduli.

Kamu menghormati orang yang lebih tua, menyayangi mereka yang jauh dibawah usiamu, dan senantiasa melemparkan senyum, mengulurkan tangan kepada teman-teman sebaya. Kamu mendatangi orang-orang yang sibuk bercumbu dengan kebersahajaan kepada tanah atau juga samudera mereka. Ikut menundukkan kepala kepada dewa-dewa yang mereka hormati, ikut memuja nama-nama leluhur mereka, menghargai kearifan mereka.

Kamu memang belum memiliki jawaban final tentang Tuhan dan agama. Tapi kamu sungguh mengerti bahwa pada tubuh agama-agama itu, ada banyak nilai bijak yang dikandung, sekaligus tahu, ada sejarah buruk menyangkut dosa-dosa berbagai agama. Tapi kamu butuh nilai, keyakinan, dan akhirnya kamu mengangkat tinggi-tinggi kemanusiaan sebagai agamamu. Kamu menghargai orang yang tidak punya agama dan tidak punya Tuhan. Tapi kamu menjadi bagian dari orang-orang yang menentang musuh-musuh kemanusiaan.

Sesekali kamu meracuni tubuhmu dengan alkohol, sekedar mengusir kenyataan-kenyataan buruk bahwa dunia ini memang tidak baik-baik saja. Tapi kamu membenci setengah mati para pengedar obat. Kamu merokok dengan baik dan fasih, tapi tidak suka pada orang-orang yang sembarangan merokok, dan tidak suka pada orang-orang yang tidak menghargai orang-orang yang tidak merokok.

Kamu tahu kapan saat yang tepat untuk mengeluarkan racun-racun dalam tubuhmu. Sekaligus juga kamu tahu, kapan saat yang tepat menimbun racun dalam tubuhmu.

Kamu benci setengah mati pada orang-orang yang berteriak anti pembajakan. Sebab mereka yang berteriak itu tidak tahu bahwa dirinya telah dijadikan agen bagi agenda-agenda ekonomi para pencuri kelas wahid. Mereka seharusnya berpikir lebih keras lagi dan lebih berhati-hati.

Lalu kamu tersenyum geli saat melewati lapak-lapak penjual kepingan cakram bajakan yang memutar karyamu. Kamu malah tersenyum ramah saat para penjual keping cakram, yang mendadak wajah mereka berubah ketakutan, mengenalimu. Kamu menghampiri salah satu dari mereka, menyalami, lalu bertanya tentang kabar keluarga mereka.

Kamu tahu persis bahwa mereka mesti menjadi penjual keping cakram bajakan karena ada anak dan istri yang saat ini bergantung pada mereka. Kamu juga tahu, sebenarnya mereka juga tidak pernah menginginkan pekerjaan itu, jika lapangan kerja yang layak untuk mereka tersedia. Kamu memang tahu betul bahwa mereka sudah berusaha dengan keras untuk menyabung hidup dengan penuh kelayakan.

Sebagai gantinya, kamu hanya meminta kepada mereka untuk membelikanmu segelas kopi dan sebungkus rokok saja. Dan kamu juga meminta mereka agar mengijinkanmu duduk di salah satu sudut, sambil memperhatikan para pembeli yang berseliweran.

Kamu ingat pernah tersenyum penuh haru atas ucapan sahabatmu, “Kalau ada standar untuk orang hidup di tingkat minimal, harusnya ada pembatasan kekayaan orang. Kemampuan dunia ini terbatas, dan seharusnya ada pengetatan atas distribusi kekayaan.”

Kamu bukannya antikemapanan, kamu hanya ingin agar semua orang hidup mapan.

Tak lama kamu pamit dari lapak-lapak tersebut, sambil tak lupa membubuhkan tanda tangan besar-besar di tiap dinding lapak mereka, bahkan berfoto. Lalu berharap, dengan itu semua, akan datang lebih banyak lagi para pembeli ke lapak mereka.

Kamu pun pergi ke sebuah pantai dan teringat bahwa nenek moyangmu adalah orang laut. Tapi kamu juga tahu bahwa nenek lainnya lagi seorang petani. Mendadak, ikan bakar yang kamu pesan telah masak. Kini sajian yang menggugah selera itu telah terhidang di hadapanmu. Kamu teringat ibumu.

Perempuan itu pernah mengajari sambil berkata tulus kepadamu, “Ingat, bulir-bulir itu dihasilkan dari keringat berbulan-bulan. Ingat, banyak orang yang masih belum cukup makan hari ini. Ambillah secukupnya.”

Kamu sedari kecil diajari untuk tidak hidup berlebihan. Kamu sedari kecil diajari: ‘ketika kamu mulai berlebihan, berarti ada hak orang lain yang kamu ambil’.

Tapi pada titik tertentu, ketika memang jalan damai tidak bisa ditempuh, ketika kontradiksi tidak bisa didamaikan lagi, kamu menyepakati perampokan bank, pembajakan kapal pesiar, perampokan keluarga kaya, dan hasilnya disebarkan bagi banyak orang. Kamu menatap kagum ‘bayang tak berwajah’, langkah-langkah kuda yang memasuki kota saat musim dingin masih membalut erat, kokangan senjata, dan teriakan yang pecah di pagi buta, ‘apa kabar, revolusi?’.

Sementara di sisi lain, kamu selalu ngakak saat ada yang berteriak-teriak bahkan mengajakmu untuk melakukan revolusi. Bukan itu saja, kamu juga meledek mereka habis-habisan sambil mengatakan: ‘kalian menawarkan revolusi atau  repot nasi?’. Kamu bukan membenci teriakan mereka. Bukan juga tidak perduli pada ajakan mereka. Kamu hanya menginginkan sebuah formula perubahan yang tidak menuntut adanya martir dari mereka yang telah berteriak-teriak itu. Kamu hanya ingin sebuah perubahan yang sangat matang, sistematis, ampuh sekaligus mematikan.

Tanpa sengaja kamu menemukan formula awalnya, ‘jika musuh bersama itu diibaratkan sebagai bola salju yang tengah menggelinding dari puncak gunung, maka jangan pernah melawannya dengan berdiri di hadapan bola yang tengah menggelinding itu: sama saja mati dengan konyol. Lompat dari samping, lalu menempellah pada badan dari bola salju itu. Kemudian kamu buangi salju-salju itu. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit. Sedikit demi sedikit. Jangan lupa ajak kawan-kawanmu untuk turut serta. Bayangkan hasil akhirnya jika semua manusia melakukannya!’. Tapi, kamu juga jangan lupa untuk bersenang-senang saat tengah melakukannya.

Akhirnya suatu hari nanti kamu akan cukup berani untuk berkata pada orang-orang di seberang meja, “Mengapa kamu memberikan aku imbalan yang sangat besar atas kerjaku yang sederhana ini? Sementara aku tahu orang-orang di sekitarmu kamu peras keringat dan pikirannya, kamu lucuti mental hidupnya. Ambil kembali uang sialanmu ini!.”

Dan kamu melenggang pergi meninggalkan meja perjanjian penuh kompromi itu. Menolak seluruh tawaran. Menolak tanpa syarat dan tanpa penyesalan. Membiarkan mereka ternganga penuh tanya.

Tentu saja kamu bukan orang yang benar-benar baik. Tidak dan tidak akan pernah. Tapi setidaknya, kamu bukan penjahat kemanusiaan. Dan kamu tetap bergulingan membayar harga keresahanmu.

Tidak bisa bangkit dari tempat tidur selama berhari-hari ketika ada berita-berita sedih yang bergelimpangan di surat kabar dan televisi. Menangis keras. Menangis kejang. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu marah. Kamu marah sekali.

Kamu tahu bahaya media massa, tapi kamu sangat tahu keampuhan mereka untuk membantu perubahan. Kamu selalu mengerang pada rekan-rekanmu yang bekerja di sana: ‘ayo, ayo...kabarkan keburukan yang terjadi agar semakin banyak mata terbuka...’

Setiap hari ada orang yang dibunuh dengan pelan. Setiap hari selalu saja ada orang yang mati karena tidak bisa makan, setiap saat senantiasa ada orang yang ditikam ketidakadilan. Kamu terdiam. Luka pada kenanganmu membengkak. Kamu terjatuh.

Kamu terbangun dengan sisa airmata. Diam. Dan lagi-lagi sayang sekali, kamu hanya orang kecil, hanya orang biasa. Kamu membuka jendela kamarmu, serombongan bocah berseragam sekolah melintas, bernyanyi ramai sekali. Duh, mereka...bagaimana kamu mempertanggungjawabkan umurmu yang lebih dulu dikokang dan dilesatkan?

Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu Kamu rusuh. Kamu dingin. Kamu rusuh. Kamu pergi. Kamu senantiasa pergi. Kamu butuh istirahat. Kamu butuh menyembuhkan luka. Kamu butuh sedikit bahagia.

Hei, kamu itu baik-baik saja. Kamu harus terus punya gelora. Harus terus punya harapan. Harus terus hidup. Harus.

Kamu jangan merasa sebagai satu-satunya orang yang menderita. Jangan berlebihan. Juga dalam menyikapi penderitaan. Selalu ada usaha-usaha dan kerja-kerja kecil yang bisa dilakukan. Kamu hanya butuh sedikit membuka telinga dan mata. Lihat, lihatlah...masih banyak orang yang bekerja dengan tulus. Masih banyak orang yang bekerja dengan tulus. Masih banyak orang yang saling berbagi kebahagiaan dan harapan. Ikut, yuk...

Tapi cuci culu mukamu, biar lebih segar. Cuci dulu lukamu, biar tak ada kuman. Cuci dulu harapanmu, biar tidak hanya ada rusuh.

Kini buatlah daftar orang-orang yang kamu kagumi. Orang-orang yang sederhana dan selalu setia pada cita-cita mereka. Jangan lupa, mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Kamu tentu masih ingat kata-kata bijak yang tertulis di tembok kontrakan salah seorang sahabatmu, tepat di samping komputernya. Kalimat dengan huruf yang sangat kecil, tapi kamu bisa memandang dan membacanya setiap tengah mengunjunginya. Sebuah kalimat yang berbunyi: ‘Di atas seluruh kesempurnaan hanya ada sikap sederhana dan rendah hati’.

Lalu segera buat daftar nama orang yang harus kamu hindari jauh-jauh. Nama-nama kaum pecundang! Kamu tahu ciri utama mereka, bukan? Ya, yang seperti selalu dikatakan oleh sahabatmu. Ciri utama seorang pecundang adalah, mereka senantiasa memiliki jawaban negatif dan nyinyir untuk segala hal!

Lihatlah lagi wajah bening dalam dekapan waktu yang hening itu. Aku menyentuhkan jemariku pelan. Pelan sekali... Menyaksikan wajah yang tenang dan tersenyum senang itu. Hidupmu hampir sempurna. Hampir! Karena memang tidak pernah ada hidup yang sempurna, atau mari bermain kata-kata, justru karena tidak sempurna itulah, kamu sempurna sebagai manusia.

Kamu masih akan tetap resah, masih tetap ada rusuh. Dan kamu juga punya masalah besar dalam hidupmu: mencari teman hidup! Di sanalah kamu sangat bermasalah. Tidak ada seseorang yang kamu bangunkan di setiap dari pagi hari...

Aku memperhatikan baik-baik wajah yang mulai bereaksi dan tubuh yang mulai menggeliat. Ketika ia akhirnya benar-benar terbangun, aku mengedarkan pandang pada seluruh isi kamarku.

Ya, aku memang sedang memimpikan diriku sendiri, merenungkan diriku sendiri, menceritakan diriku sendiri, yang tidak lain adalah dirimu!

~ Tebet, 29 Oktober 2007 ~

Tanda Cinta Yang Keras Kepala

Aku tuliskan ini semua pada saat pagi masih sangat muda. Hei kamu yang tiba-tiba ingin menjenguk hatiku...sedang resah ataukah tengah menangis?

Duh... memikirkan kamu di sana sedang terbelit seluruh gundah yang gusar itu, menjadikanku tidak berdaya. Tapi di sisi lain, aku meyakini potensi yang berbeda: di sana, kamu tengah terlelap dibawa arus mimpi yang indah.

Maka inilah aku, lelaki yang selalu terjerembab dalam dua sisi yang selalu menyatu itu. Akulah lelaki yang selalu terlibat dalam pertengkaran antara dingin dan hangatnya hati serta logikaku. Akulah lelaki yang selalu berada di antara itu. Dan mungkin kamu akan menyimpulkanku sebagai peragu.

Mungkin itu memang aku...

Dan ini semua karena sejarah masa laluku. Ini semua karena badai-badai yang pernah melibas segalanya. Ini semua karena badai-badai yang tak lelahnya menghisapku dalam matanya lalu memenjarakanku. Ini semua karena seluruh badai yang akhirnya melepaskan lalu menjadikanku sangat kacau-balau saat menyaksikan seluruh logikaku yang telah terbangun porak-poranda dan berakhir pada jiwa juga hatiku yang ikut-ikutan berantakan.

Lalu badaiku yang terakhir itu, akhirnya menggenapi seluruh kehancuranku, serupa tsunami yang menghisap kencang bibir pantai kemudian melahap rakus para penghuninya.

Tapi di titik yang sama, aku sekaligus juga merasa terhormat karena pernah terhantam oleh badai yang begitu sempurna itu.

Aku memang memegang sebuah teori kebangkitan: di saat semuanya telah berakhir, hanya ada dua cara untuk berdiri kembali. Kamu membangunnya sedikit demi sedikit dari bahan yang ada dan tersisa sambil mencecerkan seluruh energi, atau dengan menghancurkan segala yang ada dan tersisa sebagai satu pelajaran lalu mendirikan bentukan baru dari ketiadaan total sebelumnya itu.

Dan hidup selalu memberikanku pilihan yang terakhir.

Aku memang telah habis. Seluruh badai itu membuatku menjadi renta. Seluruh badai itu membuatku merasakan kelelahan yang sangat. Penat yang liat. Maka kamu pasti masih ingat bahwa aku pernah mengatakan sudah tidak begitu perduli jika hidup benar-benar menghabisiku. Tokh tak ada lagi yang perlu ditangisi. Bahkan kalau ada yang mau mengambil pelajaran dari itu, ambil saja. Aku memang benar-benar sudah tidak begitu perduli.

Jika kemudian aku masih bertahan sampai sekarang, di sebuah tempat yang jauh dari masa laluku, sungguh aku tidak tahu. Mungkin yang bisa aku katakan adalah aku tidak akan sampai di sini tanpa seluruh kehancuran total itu.

Dan seluruh badai yang menghancurkanku itu, bukan hanya menghantam segalanya, ia juga melemparkanku jauh ke sebuah pantai yang tidak aku kenal. Pantai yang sepi, atau mungkin pantai yang penuh hiruk-pikuk? Entahlah. Hingga saat ini, aku masih sulit menjelaskan, pantai apakah ini.

Lalu aku belajar merangkaki jarak. Lebih tepatnya merangkak agar menjauh dari jilatan ombak yang bergulung dan menghempaskan buih di bibir pantai yang bercelemotan pasir ini. Jika kamu bertanya padaku, adakah kesumatku kepada para pemicu badai itu? Ada. Lalu adakah terima kasihku pada mereka? Ada. Untuk apa itu semua ada? Aku juga tidak tahu, sama seperti ketika aku tersadar dalam proses merangkaki jarak, hingga kemudian berada di rentangan waktu yang jauh. Dan dari sini, melihat jauh ke sana, aku harus menyelipkan rasa kagum pada diriku sendiri: aku masih bernafas.

Tapi sesaat, nafas itu nyaris terhenti. Mendadak aku merasa tengah tidak sendiri. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu tengah merambati diriku ini. Lalu samar-samar aku kembali mencoba mengenali bentuk yang membuatku menuliskan semua ini.

Ternyata itu sebuah perbincangan. Sebuah percakapan yang menggugurkan waktu yang telah lama membeku, melemparkan bosan pada embun, membangkitkan pagi, menyisipkan kicau burung di ranting dan jalanan sepi.

Sejenak aku berhenti mengusung jenazah waktu. Sejenak aku berhenti dibekap sendu. Sejenak aku merasakan sejenis kenyamanan kembali hadir, menggelegak. Sejenak aku menjadi ringan, tanpa beban. Sejenak aku ingin selalu bersama kamu dan melakukan segalanya bersama.

Sejenak aku juga menyaksikan cerah hadir di cakrawala. Sejenak aku menikmati birunya angkasa. Sejenak aku tersenyum menyaksikan deretan awan. Sejenak aku merasa hangat. Sejenak aku ingin memeluk lalu membiarkan naluri purba membimbing kita.

Tapi aku tahu, diri ini akan terus hidup dengan mengopeki luka. Lalu membiarkan orang lain ikut menyaksikan, bahkan kalau perlu, mereka ikut membauinya. Diri ini akan terus hidup dengan menyesapi dan menghayati duka lalu membiarkan orang lain membuat penilaian mengapa mata ini memiliki cahayanya yang patah. Sekaligus di sisi lain, diri ini akan terus hidup dengan buncahan gembira. Diri ini akan terus hidup dengan bahan bakar tawa.

Dan hidupku ini sendiri adalah jemalin dari dua rasa yang berbeda, serta satu sama lainnya selalu muncul dengan tiba-tiba. Terus begitu.

Detik itu aku pun terlempar dalam ruang pertanyaan berbau kecut: apakah kamu sudah yakin dengan diri yang telah begitu berantakan ini? Kamu bisa menjawabnya dengan kata, mungkin. Sebab hidup ini juga berisi kemungkinan, di luar dari sebuah kepastian. Kamu juga bisa menjawabnya dengan kata, tidak. Sebab kata pengantar tentang hidupku telah kamu baca. Atau kamu juga bisa menjawabnya dengan anggukan. Sebab kamu hanya ingin berada di sampingku, menemani jiwa yang sekarat dan tidak bisa merasakan lagi rasa ini.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan salah seorang sahabatku. Ia membagikan sebuah cerita padaku.

Suatu hari ia diajak berkunjung ke rumah paman seorang sahabatnya. Di sana, ia berbincang dengan tante dari sahabatnya itu. Dan percakapan itu berujung pada kisah cinta antara tante dan paman sahabatku itu.

Sebagai istri, tante dari sahabatnya dari sahabatku itu sangat mencintai suaminya. Meski sebenarnya ia tahu, suaminya mirip dengan angin. Selalu datang atau pergi di saat ia ingin. Bahkan Perempuan yang bijak itu tahu, sifat angin suaminya itu karena memiliki sejarah luka yang dalam. Karenanya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan sama sekali apa yang tengah diperbuat suaminya di luar rumah mereka. Bahkan ia tahu bahwa bagaimana perangai suaminya di luar sana.

Dan tibalah di satu waktu, ia mendengar kabar bahwa suaminya tengah sekarat di sebuah kampung nelayan. Liver yang dimiliki suaminya itu sudah begitu parahnya karena terlalu banyak minum di warung remang-remang dan ditemani oleh pelacur jalanan. Perempuan yang tegar itu pun mendatangi suaminya yang sangat dicintainya itu. Kebetulan sahabatnya dari sahabatku itu menemani.

Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan sebelum pamannya itu meninggal dunia.

“Bunda, maafkan aku, ya... Selama ini hanya merepotkan saja”.

“Tidak. Ayah sama sekali tidak merepotkan Bunda. Ayah hanya terluka seperti orang lain yang terluka. Dan ayah sembuh seperti orang lain yang sembuh”.

“Terima kasih, Bunda. Kini aku memiliki keyakinan penuh untuk pergi seperti orang lain yang juga akan pergi. Dan selama hidupku ini, aku tahu bahwa tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak mencintaimu selamanya. Ceritakan pada anak-anak kita bagaimana cintamu itu padaku. Juga perangaiku padamu, agar mereka tahu bagaimana caranya menghargai Cinta dan tidak sembarangan hingga membuat orang lain terluka”.

Sorenya, upacara pemakaman khas di kampung nelayan itu berlangsung: sesosok mayat  tertutup kain  berwarna merah mengapung menuju laut. Gerimis menemani ombak yang mengusung jenazah bersama lafal cahaya senja.

Mendengar hal itu, hatiku berdesir, terasa perih. Aku, tentu saja tidak ingin mengalami kejadian seperti itu. Tentu kamu juga tidak menginginkannya. Aku pikir, itu sesuatu yang sangat menyedihkan. Tapi, hatiku yang perih mendengarnya, membayangkan hal seperti itu bisa menimpaku. Karenanya, dari awal aku bilang, aku justru harus berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat, dan bukan menghindarinya. Kenangan tidak bisa dihilangkan. Kenangan hanya bisa dihadapi atau diperam dengan resiko membusuk di dalam. Aku menghadapinya. Menghadapinya. Menghadapinya. Meski aku memiliki potensi besar, serupa dengan almarhum paman sahabatnya dari sahabatku itu.

Mmm... kamu yakin mau jadi pacarku?


~ Bojonggede, 12 Oktober 2007. Untuk WIta ~

Jerit Sunyi (Part VII: Sebuah Awal Dari Satu Akhir)

Mendadak, telepon genggamku berdering. Pada detik ketika aku melihat nomer yang ada di layar, di kepalaku hanya ada hening.

Aku kenal nomer itu. Aku masih hapal nomer itu! Tapi, dari mana ia bisa menemukan nomerku? Bukankah nomer baruku hanya diketahui oleh segelintir orang-orang yang memang aku kenal saja? Segelintir orang yang memang sengaja aku pilih, untuk aku simpan dalam memori telepon genggamku. Memang sih, seorang Perempuan dari masa laluku juga tahu nomerku, yang pada akhirnya aku tahu, bahwa aku harus menyesal telah memberikan nomerku itu padanya. Tapi aku tidak mungkin mencurigainya. Dia tidak punya hubungan apapun dengan Perempuan yang tengah meneleponku ini. Bahkan mengenalnya pun tidak.

Pelan aku mengangkat telepon, memencet tombol, dan berkata, “Halo...”

Di seberang tidak ada suara. Tapi jelas bahwa ada tarikan napas lembut, panjang, seseorang yang mencoba tenang. Diam masih berlangsung dalam sesaat.

“Halo...”

“Hai...” Suara di seberang. Suara yang sangat kukenal.

Diam. Hening. Masih ada tarikan lembut dan panjang. Dadaku sendiri berdebar-debar. Aku mencoba mengatasi keadaan. Tangan satu lagi kupakai untuk meraih bungkus rokok, menyalakannya. Di seberang, sebuah pemantik api juga menyala, suaranya begitu jelas. Dan suara rokok yang menyala di seberang juga terdengar jelas.

“Maaf aku mengganggumu...”

Nggak apa-apa...”

“Aku ingin ngomong sesuatu...”

“Ngomong saja...”

Suasana kembali senyap. Hanya ada suara hembusan napas dan isapan rokok.

“Agak susah... Aku butuh sedikit waktu...”

Nggak apa-apa...”

“Kamu baik-baik saja, kan?”

Aku tiba-tiba merasa jengkel dengan pertanyaan yang baru saja muncul dari seberang. Ia tahu aku tidak pernah baik-baik saja! Tapi akhirnya aku berucap, “Lumayan...”

“Ada nggak, jawaban lain selain lumayan?”

Aku semakin jengkel. Dengan agak ketus aku menjawab, “Kamu mau jawaban yang sebenarnya? Tidak. Aku tidak baik-baik saja, dan kamu tahu itu!”

Tapi begitu aku selesai mengucapkan kalimat itu, aku merasa sangat menyesal. Mengapa aku masih begitu kekanak-kanakan? Wahai diri, belajar dewasalah! Kamu sudah melampaui banyak hal yang getir, juga masa lalumu yang buruk dengan dia. Kamu bisa melewatinya. Kamu memang terluka. Tapi itu sudah terjadi... Dan...

“Maaf, ya...” Suara di seberang memotong pertikaian batinku.

“Untuk?”

“Untuk segala hal yang melukaimu...”

Aku terdiam. Rasa sesal kembali mengguncangku. Adilkah aku? Bukankah aku tahu bahwa semua itu bukan hanya salah dia semata? Bahkan bukankah sebagian besar justru karena kesalahanku? Baiklah, dia memang meninggalkanku. Dia memang pergi. Tapi apa yang layak dipertahankan oleh seseorang yang menjalankan sebuah hubungan dengan orang sepertiku saat itu? Aku tahu siapa dan bagaimana diriku saat itu, bukan? Bahkan aku pun sering merasa betapa sialnya aku saat itu, betapa tololnya, dan oleh karena itu memang layak ditinggalkan olehnya? Bahkan aku pun ingin meninggalkan diriku sendiri, kalau bisa!

“Maaf, ya...”

Aku merasa ada sesuatu yang menyabikku. Betapa tidak adilnya aku! Dan suara di seberang itu, tidak seharusnya merasa bersalah.

“Tidak perlu minta maaf... Tidak ada yang salah. Kalaupun ada yang salah, itu adalah aku.”

Nggak, aku salah...”

Suasana kembali hening. Lalu kuputuskan untuk melakukan pembicaraan lebih nyaman lagi.

“Bagaimana kalau soal maaf dan siapa yang salah tidak kita teruskan lagi? Sepertinya tidak berguna dan tidak pernah berakhir.”

“Tapi itu satu dari beberapa yang ingin kusampaikan kepadamu saat ini.”

Aku terdiam. Kata ‘beberapa’ membuat dadaku berdesir kuat. “Baiklah. Aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf. Kamu tahu, aku orang yang kacau.”

“Kamu orang yang baik...”

“Tidak.”

“Ya.”

“Kalau aku baik, kamu tidak akan meninggalkanku.”

Please...”

Aku kembali terkejut dengan keteledoranku. Kenapa aku harus kembali ke masalah itu lagi? Lalu aku bertanya, “Kamu bilang itu salah satu, adakah yang lain?”

“Ya. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja...”

“Aku baik-baik saja...”

“Tadi kamu bilang tidak...”

Aku memukul jidatku. Kenapa aku tadi bilang bahwa aku tidak baik-baik saja?! Tapi aku menemukan kalimat yang kurasa tepat, “Paling tidak, aku jauh lebih baik dibanding dulu...”

“Syukurlah...”

“Ada lagi yang lain...”

Mmm...”

Ia terdiam. Aku mematikan rokokku di lantai. Lalu kunyalakan lagi sebatang sambil menunggu orang di seberang melanjutkan kalimatnya.

“Aku butuh sedikit waktu.”

Nggak apa-apa...”

Mmm... apa besok-besok saja, ya?”

“Maksudmu?”

“Besok-besok saja kukatakan kalau aku sudah cukup siap.”

“Hah?! Kok begitu? Kamu tahu, dengan berkata seperti itu membuat pikiranku tidak tenang.”

“Ya, aku tahu. Tapi... Tapi itu tidak mudah.”

“Tapi kamu telah meneleponku. Seharusnya kamu sudah memikirkan hal itu.”

“Iya, tapi kenyataannya lain. Aku menjadi tidak siap setelah bicara sama kamu.”

“Kamu jangan begitu, dong... Itu membuatku semakin tidak nyaman.”

“Maafkan aku...”

“Ini bukan soal meminta maaf dan memaafkan.”

Mmm... Begini...”

Dadaku berdetak keras. Rasa debar itu bahkan bisa kurasakan sampai tenggorankanku, sampai ke kepalaku. Apa yang ingin dia bicarakan?

“Tapi sebelumnya aku ingin kamu tidak berpikir yang bukan-bukan tentangku.”

“Maksudmu?”

“Ya, apalah, misalnya kamu berpikir bahwa aku sengaja mengganggumu, kamu berpikir bahwa aku sedang tidak bersyukur dengan kehidupanku... Atau bahkan kamu berpikir bahwa, ya, begitulah aku, tidak pernah bisa penuh dengan pilihan dan tindakanku sendiri.”

Aku diam. Mencoba mencerna apa yang dimaksudkannya. Tapi banyak hal yang serba mungkin dari kalimat-kalimat itu. Aku memutuskan untuk merasa sok mengerti, “Ya...”

“Setelah pertemuan yang dulu itu... Aku merasa semakin terganggu dengan diriku sendiri. Dan sebetulnya bukan masalah bagiku, aku cukup bisa dengan mudah mencarimu, menemukan alamat emailmu, atau menemukan nomermu, tokh aku banyak kenal dengan orang yang kenal juga denganmu. Tapi... Tapi aku butuh waktu.”

Kembali dadaku terasa berdetak kuat. Degupnya bisa kurasakan sampai di kedua lenganku.

“Hidupku baik-baik saja. Aku punya keluarga yang baik-baik saja. Aku punya anak yang lucu, dan aku punya suami yang baik. Suamiku sangat baik...”

Aku masih diam. Kata-kata ‘suamiku’ sempat membuatku diselinapi rasa tidak suka. Tapi kemudian aku bisa menyadari bahwa aku harus tetap berbuat adil. Ia memang telah berkeluarga, memiliki suami dan anak.

“Aku memang kehilangan beberapa hal dalam hidupku, tapi aku mendapatkan hal yang lain. Dan aku sadar bahwa itu juga akan terjadi pada banyak orang...”

Aku agak tersentuh dengan kalimat yang baru saja diucapkannya. Ia telah tumbuh dengan begitu dewasa. Mungkin sebuah keluarga, sebuah pernikahan, membuat orang berkembang lebih cepat untuk menjadi dewasa...

“Terus...”

“Tapi entah mengapa selalu ada yang mengganjal dalam hidupku. Tapi aku bahagia. Tapi... Tapi memang ada yang mengganjal.”

“Maksudmu?”

“Susah menerangkan hal ini. Aku tahu bahwa hidupku baik-baik saja. Aku cukup bahagia. Aku mensyukuri kehidupanku sekarang ini. Tapi selalu ada yang terasa mengganjal...”

Aku mencoba tetap diam. Mencoba tetap mendengarkannya.

“Hingga kemudian suamiku berkata: ‘kalau ada sesuatu yang mengganjal dirimu karena masa lalu, kupikir kamu harus menyelesaikan itu dulu’. Selesai suamiku berkata seperti itu, aku merasa tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus bicara sama kamu.”

“Kamu ingin ketemu aku?”

Nggak, lewat telepon saja kupikir sudah cukup.”

“Baiklah. Kamu bisa mengatakan itu kepadaku sekarang...”

“Aku mencintaimu...”

Deg! Jantungku berhenti berdetak beberapa saat setelah kalimat itu terdengar. Aku merasa lemas sekali.

Suara dari seberang terdengar melemah, seperti menahan tangis, “Tolong jangan pernah bilang lagi kepadaku: 'kalau aku mencintaimu, mengapa aku meninggalkanmu?'. Please... Jangan bebani aku dengan pertanyaan seperti itu. Itu pedih sekali. Aku sudah melangkah. Dan ini semua sudah terlalu jauh. Di sini, di sekelilingku, ada kehidupan yang begitu nyata. Ada anak yang membutuhkanku, ada suami yang sangat baik kepadaku. Aku... Aku...”

Suara di seberang tersedu. Terisak. Dan mataku juga basah...

“Aku memang pernah melakukan perbuatan bodoh itu. Aku meninggalkanmu. Karena saat itu aku begitu lelah. Karena saat itu aku merasa bahwa banyak hal yang berlangsung dan tidak membawa harapan-harapan baik. Aku memang pernah salah. Aku berharap bisa menemukan yang lebih baik lagi...”

Kembali gigil tangis terdengar di seberang.

“Dan aku tahu kelak kemudian bahwa semua ini tidak lebih baik... Dan itu semua terjadi seperti mimpi. Lalu aku ingin ini memang benar-benar hanya mimpi, dan aku ingin bangun dengan tetap ada kamu...”

Aku diserang badai haru yang luar biasa. Aku kembali dihinggapi rasa sesal yang amat sangat. Menyesali mengapa aku dulu bisa begitu kacau, sehingga membuatnya menyerah, membuatnya lelah, membuatnya meninggalkanku. Dan mengapa selalu aku menyakitinya lagi dengan menuduhnya yang bukan-bukan?

“Ya. Itulah hal yang paling penting untuk kusampaikan. Aku sangat mencintaimu...”

“Aku juga sangat mencintaimu. Dan kamu tahu itu...”

“Ya, aku tahu. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Dan kamu sangat menderita... Maafkan aku...”

Nggak apa-apa... Aku juga salah, kok... Kalau aku jadi kamu, aku akan meninggalkan orang sepertiku jauh-jauh hari, dengan cara yang lebih kejam...”

“Kamu jangan begitu...”

“Aku jujur dan aku serius... Aku mengesalkan, menyebalkan, serba buruk saat itu...”

“Mau nggak kamu berjanji kepadaku?

“Janji apa?”

“Kamu jangan lagi menderita. Aku ingin kamu bahagia.”

“Ya, aku janji.”

“Terimakasih.”

“Kamu mau janji nggak sama aku?”

“Janji apa?”

“Jangan pernah menghubungiku lagi.”

Hanya ada diam di seberang.

“Maksudku, ini semua lebih baik dari yang sudah-sudah. Kamu sudah menyampaikan apa yang perlu kamu sampaikan, dan aku sudah berjanji kepadamu. Kamu sudah punya keluarga, dan tidak ada yang bisa menjamin kalau kemudian kita melakukan hal-hal bodoh, yang tidak perlu terjadi...”

“Ya, aku janji. Aku punya kehidupan nyata. Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.”

“Terimakasih.”

Kembali hanya ada diam. Lalu aku berkata, “Sekarang, lebih baik kita akhiri percakapan ini.”

“Baiklah.”

“Terimakasih, ya...”

“Aku juga terimakasih.”

Bye...”

Bye...”

Telepon kumatikan. Pintu kontrakan kukunci. Lampu kumatikan.

Aku menangis sepanjang malam...

Jerit Sunyi (Part VI:'Mereka Tahu Diri Mereka Cantik!')

       Akhirnya, aku merasa butuh orang untuk membagikan cerita tentang penderitaanku itu. Lalu aku menceritakan kepada beberapa sahabat yang memang sangat aku percaya. Ternyata respons mereka terkesan aneh bagiku. Semua sahabat yang kuberitahu tentang kisahku mengatakan bahwa sebetulnya Perempuan-perempuan masa laluku itu mau agar aku bekerja lebih keras lagi untuk menunjukkan perasaanku pada mereka. Perempuan-perempuan itu ingin bermain-main proses denganku. Mereka ingin menguji sejauh mana aku serius untuk menjalin sebuah hubungan. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa itu adalah ciri dari seorang Perempuan yang tahu dirinya cantik. Perempuan yang sangat percaya diri dengan kecantikannya. Perempuan yang tahu bahwa ada laki-laki yang harus menekuk lutut di hadapannya, kalau perlu menyorongkan atau melurukkan tubuh ke tanah ketika sedang berhadapan.

       Tentu saja aku terheran-heran dengan komentar mereka. Semua itu tidak pernah terpikirkan olehku. Aku lantas berpikir keras tentang hal itu. Lalu aku membuat kesimpulan bahwa apa yang dikatakan oleh para sahabatku itu benar. Jika seperti itu, tentu akan memakan banyak energiku. Dan bukan hanya itu, kalau pun tokh nantinya aku berhasil menjalin hubungan dengan Perempuan-perempuan itu, tentu tidak akan menjadi hubungan yang baik. Hal seperti itu hanya akan menambah kesia-siaan dalam hidupku, hanya menambah panjang daftar lelahku. Detik itu juga, aku memutuskan untuk tidak pernah menghubungi mereka lagi. Tidak pernah menganggap eksistensi mereka lagi. Tidak! Bahkan saat aku, misalnya, bertemu dengan salah satu dari mereka di pinggir jalan. Mereka sudah menjadi asing yang jauh bagiku. Dan mereka memang pantas mendapat perlakuan itu dariku. Sungguh!

Jerit Sunyi (Part V)

       Tanpa sengaja, sore itu aku kembali mengunjungi tangga di taman tempat berkumpulnya para seniman. Sesaat, aku tersenyum kecut menyaksikan empat undakannya. Mendadak satu kilat kecil menyambar. Membawaku pada sebuah pintu di masa lalu: momen sederhana saat tangisku benar-benar tumpah di hadapanmu. Pada sebuah sore. Pada suatu waktu...
       Di salah satu anak tangganya itu, kamu pernah meminta satu hal dariku: membuka seluruh pintu hatiku yang hanya terbuka sedikit saja. Aku menggeleng. Dan diam-diam aku membatin: ‘Ah… intip ke dalamnya saja, sayangku… tatap seluruh hal yang bisa kamu lihat, meski melalui pintu yang hanya terbuka sedikit itu…’
       Kamu menggeleng lebih keras. Kamu ingin segalanya terbuka lebar. Ngablak. Kamu hendak jadikan itu sebagai sebuah ukuran kepastian. Tentu saja aku menggeleng lebih keras. Lalu saat itu juga kamu mengancam akan meninggalkan aku jika kemudian tidak mengabulkan permintaanmu.
       Sekejap saja aku tahu, sore itu aku mesti memperlihatkan seluruh luka berbalur duka. Senja itu, aku mesti membuka segalanya dalam sebuah pertemuan yang terasa sangat menentukan: aku mesti membuka kotak penuh debu dan biasa aku ziarahi sendirian, pada seseorang di luar diriku sendiri.
       Dan segalanya aku mulai dari kisah kelamku sebagai produk pengkhianatan: keluargaku sendiri, sahabat bahkan perempuan yang kini aku sebut ‘terkalahkan’ dan sudah jadi masa laluku itu. Kamu pasti masih ingat dengan lengkap ceritaku itu, bukan?
       Lalu aku pun menangis. Bukan. Bukan karena getirnya sejarah hidupku sendiri, tapi traumaku: tiap kali aku membuka semuanya, mereka yang telah aku ceritakan bernjak pergi. Semuanya berakhir tanpa meninggalkan satupun alasan yang jelas.
       Tapi kemudian, kamu membimbingku dalam pelukanmu. Kamu membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kamu menegaskan tidak akan meninggalkanku. Apapun yang terjadi, kamu akan merawat kenangan buram dari potret masa silamku. Kamu bersumpah, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan telah diperbuat oleh mereka yang kini jadi masa laluku itu.
       Duh… tangisku pun mereda. Kamu tahu, diam-diam kamu telah mampu menghisap habis anyir luka melalui kata yang kamu ucapkan itu. Kamu menguatkan sesuatu yang sebenarnya rapuh di balik dadaku. Dan aku berjanji akan membuka hatiku untukmu. Aku pun bersumpah akan membagi semuanya padamu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya.
       Lalu Kamu tersenyum. 'Kita', tepatnya. Aku pun melamarmu...
       Dan, seperti yang selama ini kerap terjadi, aku kembali terhantam sepi. Kembali terluka. Kembali bersimbah luka. Sendiri. Di sini, aku hanya mampu sampaikan ini: kamu memang tega sekali

---
Saat masih terperangkap dalam mata sebuah badai, 2006.